LAHAN GAMBUT ADALAH BATU BARA MUDA

Lahan Kelapa Sawit

Beberapa hari yang lalu, saya pulang dari Palembang menuju Jambi. Dalam perjalanan kebetulan saya bersebelahan duduk dengan seorang Bapak yang ternyata salah satu ahli kehutanan di salah satu dinas di Provinsi Sumatera Selatan. Beliau akan pulang ke rumah orangtuanya di daerah Sarolangun.

Setelah panjang lebar bertukar cerita sampailah di satu poin penting dari pembicaraan saya dan Bapak tsb yang saya fikir harus di share ke semua orang. Ceritanya adalah tentang Lahan Gambut!!

Poin yang paling membuat saya tertegun adalah Lahan Gambut yang di Indonesia, mau di Jambi, Riau, Sumsel maupun Kalimantan, dijadikan lahan kelapa sawit, ternyata merupakan BATU BATU MUDA, yang 100 tahun yg akan datang bisa menjadi batu bara!
Artinya lahan gambut yang ada sekarang apabila dijaga hingga 100an tahun yang akan datang bisa jadi sudah bisa dinikmati sebagai komoditas batu bara murni. Dengan catatan tidak dirusak.

Dan tahukah anda bahwa ternyata Penanaman Kelapa Sawit merusak “calon batu bara” tsb secara permanen! Tidak ada tanaman yang serakus Kelapa Sawit dalam menghisap kandungan air pada tanah, tidak hanya di permukaan tapi bahkan sampai puluhan meter ke bawah. Lahan gambut yang kita ketahui bersama adalah lahan yang lembek karena kandungan air yang cukup tinggi bisa menjadi kering kerontang karena ditanami kelapa Sawit.

Malaysia dan Singapura juga memiliki lahan gambut dan mereka sudah sangat menyadari potensi masa depan dari lahan gambut, sehingga mereka sudah secara drastis menghindari penanaman Kelapa Sawit di negara mereka. Tentu saja agar anak cucunya kelak bisa menikmati batu baru yang sengaja diwariskan oleh nenek moyangnya.mesti-menata-kembali-perkebunan-sawit

Hal ini lah yang menjadikan Malaysia dan Singapura berbondong2 berinvestasi di Indonesia utk menanam Kelapa Sawit. Hasilnya kemudian dibawa ke negaranya, sementara Indonesia hanya kebagian 2 hal yaitu Pertama, Lahan Gambut yang sudah rusak dan tidak mungkin menjadi batu bara. Kedua, hanya kebagian asap akibat lahan gambut yang terbakar/dibakar.

Ironisnya, pemerintah kita dan mungkin juga kita dengan berbangga hati menerima investasi semacam itu masuk ke Indonesia yang sadar atau tidak sadar merusak warisan bernilai tinggi bisa diwariskan untuk anak cucu kita kelak, BATU BARA.

Zionist Tidak Ingin Indonesia Dan Malaysia Bersatu

Indonesia tidak akan menoleransi tindakan negara lain yang mengancam kedaulatan, termasuk menggeser tapal batas. ”Tidak ada kompromi soal kedaulatan,” kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Selasa (11/10/2011).

Hubungan Indonesia kembali memanas. Setelah kian kali, dua Negara serumpun-seakidah ini kembali diributkan persoalan nasionalisme yang sama sekali tidak diajarkan ulama-ulama Melayu tempo dulu.

Kasusnya sederhana, namun luar biasa bagi kaum nasionalis, yakni permasalahan tapal batas Camar Bulan di Sambas yang diduga telah dicaplok Malaysia.

Kita harus membuka mata bahwa konflik antara Malaysia dan Indonesia ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ada unsur-unsur pemicu layaknya api yang menimbulkan asap besar. Pertanyaannya siapakah pemantik api itu? Umat Muslim? Bukan, karena kita hanya korban.

Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengamini bahwa ada intervensi pihak luar di balik perseteruan kedua Negara serumpun muslim ini.

Dalam memoar buku Thomas Raffles disebutkan, Barat harus memastikan bahwa alam Melayu ini lemah. Untuk melemahkan, Raffles mengusulkan dua buah strategi.

Pertama, imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu, melainkan majemuk (dibawa orang-orang China dan India).

Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu yakni Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. Jadi, tujuan mereka memang untuk memisahkan Arab dengan Melayu.

Bersatunya antara Malaysia dan Indonesia membentuk Imperium Islam Melayu inilah yang sangat ditakuti oleh Zionisme.

Mereka sadar Melayu adalah potensi kuat dalam membangkitkan Islam dari tenggara Asia, maka itu jalur ini harus dihabisi, apapun caranya.

Dan pengalaman bangsa Indonesia yang kerap mudah diadu domba adalah kunci yang selalu mereka pegang saat zaman devide et impera.

Yang juga kita harus faham adalah Thomas Stamford Raffles sendiri seorang Freemason. Menurut Th Stevens dalam bukunya Tarekat Mason Bebas, Raffles pada tahun 1813 dilantik sebagai mason bebas di bantara “Virtutis et Artis Amici”. “Virtus” merupakan suatu bantara sementara di perkebunan Pondok Gede di Bogor.

Perkebunan itu dimiliki Wakil Suhu Agung Nicolaas Engelhard. Di situ Raffles dinaikkan pangkat menjadi ahli (gezel), dan hanya sebulan kemudian dinaikkan menjadi meester (suhu) di loge “De Vriendschap” di Surabaya.

Raffles pula yang mendirikan Singapura modern yang kini menjadi basis Israel di Asia Tenggara. Agen-agen zionis melalui Singapura adalah penghasut sebenarnya dalam mengeruhkan hubungan sesama muslim Melayu.

Kebanyakan koruptor Indonesia pun bermukim di Singapura setelah merampok uang hasil keringat anak-anak Indonesia dan rakyat jelata.

Singapura adalah sekutu zionis. Mereka tidak mau menandatangani perjanjian extradisi dengan Indonesia semata-mata melindungi koruptor ini karena mereka bawa banyak uang ke Singapura.

Untuk mengalihkan isu ini dari masyarakat Indonesia, mereka akan coba cari isu supaya masyarakat Indonesia lebih fokus pada isu yang mereka cipta.

Maka diwujudkanlah isu sekarang, konfrontasi Malaysia-Indonesia. Melalui media sekular di Negara ini, mereka terus berupaya agar rumpun Melayu bangga akan identitas negara-nya masing-masing.

Adanya inflitrasi Zionis di Malaysia juga bukan barang baru. Tahun lalu mantan wakil perdana menteri Malaysia yang juga tokoh oposisi, Anwar Ibrahim, pernah membeberkan fakta adanya keberadaan intelijen Zionis di markas kepolisian federal Malaysia.

Kala itu bersama dengan Kelompok Muslim, mereka menyatakan memiliki dokumen yang memperlihatkan kemungkinan adanya intelijen Zionis kedalam strategi informasi negara lewat perusahaan kontraktor bernama “Osiassov”, yang melaksanakan proyek pengembangan sistem komunikasi dan teknologi di markas besar polisi federal Malaysia.

Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa perusahaan “Osiassov” terdaftar di Singapura namun berkantor pusat di negara penjajah Zionis Tel Aviv.

Menurut Anwar, kehadiran dua mantan perwira tentara Zionis di perusahaan yang bersangkutan, adalah sepengetahuan petugas polisi senior Malaysia dan Menteri Dalam Negeri Malaysia sejak jaman Syed Ahmad Albar.

Yakinlah, jika umat muslim Melayu tidak kembali ke ajaran Islam sejati dimana tak ada ruang pada nasionalisme yang memberhalakan bangsa, benih permusuhan itu akan selalu muncul, walau kedua Negara itu makmur dan sama-sama beragama muslim.

Maka itu, bersatulah bangsa Melayu. Bersatulah diatas Panji Islam yang akan membuka jalan tegaknya dienullah ini di tanah perjuangan kita, tanah Melayu Darussalam. (pz)