Orang Minang Tidak Boleh Pintar


Oleh : Heru Joni Putra

Membaca adalah menelusuri jalan setapak yang tidak kita ketahui sebelumnya, yang menuju ke dalam diri kita sendiri

(Octavio Paz)

Kalau orang Minang pintar, maka akan terjadi beberapa masalah bahkan kerugian bagi pihak-pihak tertentu. Bila dilihat dari perspektif ekonomi, maka pihak pengusaha-kapitalisme akan kehilangan lahan bisnis. Cara yang paling mudah untuk membuat orang Minang tidak boleh pintar adalah dengan membuat mereka tidak suka membaca, atau dengan membatasi buku-buku yang masuk ke ranah kita ini.

Ada begitu banyak cara agar orang Minang tidak gemar membaca. Salah satunya dengan menjadikan masya ra kat kita, terutama generasi muda se bagai korban dari sistem ekonomi ka pitalis. Bahkan bukan sesuatu yang mengherankan lagi bila dunia politik, pen didikan bahkan agama sudah di ken dalikan oleh kapitalisme. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam sistim eko no mi kapitalis, pertimbangan yang di uta makan adalah laba maksimal atau keuntungan yang sebesar-besarnya, sehingga pertimbangan kebudayaan dan kemanusiaan sengaja diabaikan. Sekarang ini kita tidak bisa lagi se pe nuhnya mengharapkan sekolah atau pun universitas sebagai tempat untuk ma ha/siswa menjadi pribadi kritis lagi ber ilmu-pengetahuan, sebab sekolah maupun universitas telah dikuasai oleh orang-orang yang tidak memikirkan pendidikan itu sendiri.

Kalau memang lembaga pendidikan di tempat kita berpikir tentang pen di di kan, tentu saja mereka juga berpikir ten tang buku, bagaimana menjadikan membaca sebagai gaya hidup. Berpikir bahwa membaca sebagai gaya hidup tentu saja sangat sulit, bahkan bisa menjadi suatu hal yang tidak mungkin, karena yang berpotensi menjadi gaya hidup sekarang adalah apapun yang bisa dipamerkan, seperti geng motor dan mobil mewah, sepeda pixi, dan sejenisnya yang sangat mudah kita saksikan di seputaran Taman Budaya Sumatra Barat. Kalaupun buku menjadi gaya hidup, maka bukan membaca yang diutamakan, tetapi penerbitan buku how to, self-help, dan buku-buku yang mengajarkan kita untuk berpikir instan lainnya, yang mana ujung-ujungnya penerbitan buku seperti itu hanya untuk kepentingan laba maksimal.

Kalau memang lembaga pendidikan kita berpikir tentang buku, tentu saja mereka juga berpikir tentang perpus ta kaan yang kompeten. Dan pada ke nya ta annya, lembaga pendidikan kita, baik itu sekolah apalagi universitas yang di anggap sebagai tempat di mana ke be basan intelektual berkembang, tidak pe duli pada perpustakaan. Kalau memang pe tinggi universitas di tempat kita ini peduli pada buku dan perpustakaan, maka tak mungkin kita akan melihat di perpustakaan mereka buku-buku ber se rakan di mana-mana, berdebu, dan tak pernah dikelola dengan baik. Tak salah kiranya bila kemudian bila ma ha sis wa menjadi korban kapitalis, se hing ga kampus pun menjadi showroom—tempat memamerkan motor dan mobil mewah, atau menjadi panggung fashion show—tempat memamerkan bu sana terbaru. Dan tak salah bila ke mu dian mahasiswa tidak lagi menjadi tem pat bertanya bagi masyarakat, se ti daknya bagi masyarakat sekitar kampus yang notabene setiap hari bertemu dengan mahasiswa. Di salah satu kam pus ternama di kota Padang, bila Anda mau memperhatikannya, maka Anda akan melihat suasana yang kontras: Sebuah lembaga pendidikan dibangun dan orang-orang berbondong-bondong masuk ke sana, sementara penduduk sekitar tidak terkena pengaruh inte lektualnya. Keberadaan mahasiswa hari ini bagi masyarakat umum sepertinya sekedar dan hanya sekedar untuk mencari uang seperti dengan menjadi tukang ojek atau sopir angkot, mem bangun tempat kost, dan berjualan di se putaran kampus.

Tetapi bagi kapitalis, mahasiswa yang seperti itu sangat berpotensi untuk dijadikan pasar, terutama untuk pen jualan produk-produk yang menjadi ba gian dari gaya hidup masyarakat kota besar, seperti ponsel, komputer tablet, kamera, dan seterusnya. Barang-barang tersebut tidak lagi dibeli berdasarkan tingkat kegunaan, tetapi lebih kepada tingkat nilainya atau gengsinya. Dalam pikiran para kapitalis, bila masyarakat—apalagi mahasiswa—sudah memiliki orientasi pada gengsi, maka akan lebih mudah untuk menguasai mereka de ngan berbagai cara, salah satu dengan me lakukan diskon untuk mahasiswa dan pelajar. Sungguh betapa ironis, bahwa buku-buku berkualitas yang sempat masuk ke toko buku di tempat kita ini tak pernah diberikan diskon sebesar-besarnya. Selama ini diskon-diskon yang diberikan hanya pada buku-buku how to, self-help, dan kalaupun ada buku-buku yang ber kualitas, itupun sudah dalam keadaan tidak baik, atau kalau tidak, hanya de ngan diskon yang sangat kecil, sehingga masih terasa mahalnya.

Dan sekarang saatnya kita melihat bahwa selain dengan mengajak ma sya rakat menjadi tidak gemar membaca, mem batasi buku-buku yang masuk ke tem pat kita ini. Saya pernah bertanya pa da salah seorang teman saya yang be kerja sebagai distributor penerbit ter kenal di Bandung, mengapa buku-buku berkualitas terbitan Jalasutra, Mizan Group, Bentang Pustaka, dan masih banyak lainnya tidak pernah sampai ke Padang; teman saya itu mengatakan bahwa Padang termasuk dalam zona merah, artinya buku-buku yang se ba gian besar didistribusikan ke Padang ada lah hanya buku-buku yang sudah di perkirakan akan banyak dibeli orang, se perti novel-novel yang sedang po pu ler. Kita tentu sedih sekali bahwa ma syarakat kita bukanlah ‘pasar’ bagi buku-buku berkualitas. Masyarakat yang tidak membutuhkan buku-buku berkualitas.

Menurut saya, pembatasan ter ha dap buku-buku yang masuk ke tempat kita bukan dilakukan oleh distributor-distributor di pulau Jawa, tetapi justru oleh pemerintah kita sendiri. Memang, secara terang-terangan pemerintah tidak mengatakan seperti itu, tetapi bila kita perhatikan dari sikap, tindakan, dan keputusan-keputusan yang mereka buat, maka sangat jelas bahwa mereka ikut mendukung keterbatasan buku-buku di tempat kita ini. Sebagai pihak yang memiliki kekuasan untuk men ja dikan Padang sebagai salah satu kota buku di Indonesia, maka sudah sepa tut nya mereka sadar bahwa selama ini ter jadi kontradiksi dalam tindakan-tin dakan mereka: di satu sisi mereka be ru saha sekuat tenaga untuk men cip takan masyarakat yang berpendidikan, tapi di sisi lain mereka menggagalkan rencana mereka sendiri. Oleh karena itu hendaknya pemerintah serius me mi kirkan kembali konsep pendidikan di Sumatra Barat.

Setiap saya bertemu dengan ma ha siswa-mahasiswa yang berasal dari univer sitas ternama di pulau Jawa, saya begitu yakin bahwa satu-satunya yang membuat mahasiswa kita ter dis kri minasi dengan mereka adalah fakta bah wa mahasiswa kita kekurangan refe rensi, kurang bahan bacaan. Kelebihan ma hasiswa di pulau Jawa hanya karena mereka mempunyai referensi yang banyak, bahan bacaan yang beragam, sehingga iklim intelektual di sana begitu hidup dan bergairah. Akhir-akhir ini seringkali muncul wacana pesimis yang mengatakan bahwa iklim intelektual di ranah Minang sudah mati, wacana tersebut terasa semakin optimis dengan dijadikannya tokoh-tokoh dahulu se perti Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, M. Ya min, Hamka, dan seterusnya sebagai per bandingan. Malahan ironisnya, kita justru terkurung dalam kebanggaan masa lalu itu tanpa pernah memikirkan mengapa tokoh-tokoh tersebut menjadi begitu berarti bagi Indonesia? Karena mereka adalah orang-orang yang men da patkan banyak buku adalah jawaban ter baik untuk pertanyaan tersebut. Kalau seandainya mereka tidak me ran tau ke Belanda dan mendapatkan buku-buku di sana, mungkin nama mereka tak akan seperti sekarang ini. Bung Hatta, Tan Malaka, dan Hamka sangat tahu betapa penting buku bagi per kem bangan suatu bangsa. Itu sebabnya mereka pun ikut menuliskan buku, menyampaikan pemikiran-pemikiran mereka.

Mungkin akan banyak yang mem ban tah pernyataan saya dengan me nga ta kan bahwa mendapatkan buku tak se sulit yang dibayangkan. Salah satu ala sannya barangkali karena adanya in ter net yang menciptakan bentuk budaya bu ku yang baru seperti e-book atau audio-book. Atau toko-toko buku online semakin marak. Hal tersebut memang benar, tetapi hal tersebut tidak dapat menimbulkan minat baca yang tinggi, sebab yang akan mengakses e-book atau audio-book tersebut hanya orang-orang yang sudah candu dengan buku. Ar ti nya, keberadaan buku-buku elektronik atau toko buku online adalah pe nun jang, bukan yang utama. Jika kota Padang bisa menjadi salah satu kota buku: berbagai macam buku tersedia, maka pelan-pelan akan terjadi per u ba han yang sangat menggembirakan, se perti masyarakat mulai menggemari membaca, perusahaan penerbitan indie semakin banyak, orang-orang semakin berminat untuk menulis, dan yang paling penting, dengan pengalaman ba caan yang beragam, masyarakat kita tak mu dah lagi dikibuli oleh kapitalis yang je las-jelas selama ini memanfaatkan ma syarakat kita yang tak bisa berpikir kritis, sehingga yang terjadi seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya. Dan yang juga penting, kita tak mudah lagi dikibuli oleh politikus atau pengusaha yang ketika pulang kampung mereka dengan mudah menjadikan kita sebagai “kudo palajang bukik” untuk mencapai ke kuasaanya. Selamat hari buku na sional.

Sumber: padangekspres.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s