Pemindahan Ibukota Indonesia : Bukittinggi adalah pilihan paling ideal


Saat ini tengah hangat-hangatnya bergulir wacana mengenai pemindahan pusat pemerintahan dari Jakarta ke daerah lain, ada yang menyebutkan Jonggol seperti yang diusulkan Pak Soeharto (bahkan sudah ada lahan yang telah dibebaskan untuk siap dijadikan tempat pembangunan gedung-gedung pemerintahan), da juga yang menyebutkan Palangkaraya ataupun Kalimantan Tengah, tepatnya di Kota Merdeka, sesuai usulan Pak SBY dan salah satu anggota di komisi DPR RI. Bahkan yang lebih extreme, ada yang mengusulkan di wilayah Indonesia Timur. Siapapun boleh berpendapat dan mengusulkan daerah manapun yang mereka anggap sebagai daerah ideal sebagai pengganti Jakarta. Namun mari kita flashback sedikit tentang sejarah Indonesia yakni ketika pusat pemerintahan pernah dipindahkan dari Jakarta ke kota lain yakni Yogyakarta dan Bukittinggi. Kenapa kita tidak pernah berpikir untuk memindahkan pusat pemerintahan ke dua kota itu?

Kenapa saya mengutarakan statement tersebut? Alasannya sederhana, pasti Bung Karno punya alasan tersendiri untuk memilih kedua kota tersebut. Pasti Bung karno mengetahui sekali apa kelebihan kedua kota ini dibandingkan kota lain. Nah itulah yang akan kita bahas satu persatu sekarang.

Kenapa Jogjakarta dan Bukittinggi?

Jogjakarta adalah satu di antara dua daerah istimewa di Indonesia dan sekarang adalah satu-satunya daerah istimewa dalam jajaran provinsi yang ada di wilayah NKRI. Jogjakarta terkenal sebagai wilayah yang stabil dan aman jika dibandingkan kota-kota lain di pulau jawa. Daerah inipun memeiliki catatan pergolakan yang tidak banyak sehingga ideal sebagai tempat bernaungnya pengendalian politik yang memang butuh kondisi yang aman dan kondusif.  Jogjakarta juga dikelilingi oleh dua benteng alam yakni Gunung Merapi di utara dan samudera hindia di selatan, membuat kota ini tidak gampang untuk ditaklukkan.  Apalagi wilayah Jogjakarta adalah suatu daerah keraton dimana masyarakat benar-benar tunduk sepenuhnya kepada hukum adat dan budaya Jawa yang terkenal ‘kalem’ sehingga memberikan suatu guarantee akan kestabilan. Selain itu tokoh-tokoh politik Indonesia pada zaman itu juga banyak yang berasal dari wilayah Jogjakarta, sehingga ini adalah salah satu trigger kenapa Bung Karno memilih Jogjakarta sebagai pengalihan Pusat Pemerintahan sementara pada zaman itu.

Bukittinggi juga tidak kalah unggul dari Jogjakarta. Banyak tokoh-tokoh politik serta cendikiawan nasional yang berasal dari kota ini. Sebut saja Bung Hatta, M. Yamin, Buya Hamka, dan masih banyak lagi. Bukittinggi juga menjadi salah satu titik perjuangan kemerdekaan di  daerah Barat Indonesia. Benteng Fort de Cock, Lobang Jepang, Istana Bung Hatta, Jam gadang adalah segelintir dari bukti perjuangan kemerdekaan di kota ini. Selain itu, kota Bukittinggi juga merupakan kota yang relative kuat karena keempat arah mata angin di kota ini dikelilingi oleh benteng alam yang tak mudah untuk dipatahkan. Serupa dengan Jogjakarta, Bukittinggi juga memiliki Gunung Merapi, gunung berapi aktif yang masih sibuk memuntahkan laharnya setiap periode beberapa tahun sekali, mengapit Bukittinggi di barat. Gunung Singgalang, gunung purba yang terakhir meletus ratusan tahun yang lalu dan jika meletus diprediksi akan mampu membelah pulau sumatera, juga melindungi Bukittinggi di selatan. Lain lagi, Lembah Sianok (Sianok Canyon) yang juga melindungi Bukittinggi di utara dan barat. Keempat bentang ala mini membuat kota Bukittinggi membuat penjajah harus memutar otak ratusan kali untuk bisa melumpuhkan kota ini, karena memang kota ini adalah kota yang sulit untuk ditaklukkan walau digempur dari arah manapun.

Kedua kota ini telah menunjukkan taringnya untuk layak dipilih sebagai tempat yang ideal sebagai pusat pemerintahan, baik di masa Bung Karno, maupun pada abad ke-21 ini.

Namun kenapa Bukittinggi lebih ideal daripada Jogjakarta?

Pemerataan pembangunan. Bukittinggi berada di wilayah barat Indonesia yang harus diakui masih kalah dalam hal pembangunan dibandingkan di Jawa. Jika pemerintah memang memiliki niat untuk melakukan pemerataan pembangunan, kalau pemerintah memilih Jogja maka pembangunan akan tetap terpusat di pulau Jawa dan tidak akan pernah wilayah lain merasakan pembangunan yang merata. Ini akan semakin memperbesar kesenjangan antara Jawa dan pulau lain. Dengan memilih Bukittinggi yang berada di poros pulau Sumatera, maka akan menjadi magnet untuk memacu pembangunan di wilayah di sekitarnya. 4 Provinsi yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat yakni Riau, Sumatera Utara, Jambi dan Bengkulu akan terbangun secara merata.

Pemerataan Penduduk. Jika Jogjakarta dipilih, maka pulau Jawa yang sudah sangat padat ini (5x lebih padat daripada RRC) akan semakin padat. Semakin banyak orang dari luar Jawa yang akan urbanisasi ke Jawa. Apalagi tanah di Jogjakarta yang masih terbilang murah disbanding Jakarta ataupun kota besar lain, akan semakin menarik minat orang dari berbagai penjuru Negara ini. Bandingkan dengan Bukittinggi yang hanya memiliki penduduk 300.000 orang dengan luas wilayah yang cukup besar. Pulau Sumatera yang merupakan pulau kedua terbesar di Indonesia akan tetap mampu menampung laju urbanisasi dari berbagai daerah namun akan tetap memberi ruang untuk bernafas yang tetap lega. Sehingga penduduk Indonesia akan lebih merata.

Lokasi Strategis. Bukittinggi memiliki posisi yang sangat strategis yakni berada di perlintasan lalu lintas 6 provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Riau, Bengkulu dan Sumatera Barat. Jadi jalur barang dan orang akan sangat lancar di Bukittinggi. Bukttinggi juga tidak jauh dari dua pelabuhan laut yang cukup besar yakni Teluk Bayur yang berada di Kota Padang dan menghadap ke Samudera Hindia. Hal ini memudahkan hubungan Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan Indonesia dengan dunia luar yakni Asia Selatan dan Asia Barat. Teluk Bayur juga memiliki akses yang mudah untuk tetap menghubungkan Bukittinggi dan Jakarta karena selama ini pelabuhan utama Sumatera Barat itu selalu menjadi jalur barang dari Jakarta ke Sumatera Timur. Yang kedua, Bukittinggi juga tidak jauh dari pelabuhan Sungai Siak yang ada di Kota Pekanbaru. Dengan hanya 6 jam perjalan dari Bukittinggi, Pelabuhan Sungai Siak ini sangat dekat dengan Bandar Internasional Selat Malaka yang memang menjadi perlintasan kapal dari berbagai penjuru dunia. Bukittinggi akan mudah berhubungan dengan Negara di Semenanjung yakni Singapura, Singapore dan Thailand. Dengan posisi yang dekat dengan selat malaka, Indonesia akan mempu memiliki peran yang jauh lebih dominan dalam pengaturan di Bandar tersebut sehingga mendatangkan devisa yang lebih bagi Indonesia,  serta memudahkan kontrol  terhadap pulau-pulau yang rawan terhadap pembajakan oleh Negara tetangga.

Bandingkan dengan Jogjakarta. Posisinya yang terletak di Selatan hanya memiliki satu Bandar yang menghadap ke laut selatan. Posisi ini hanya memudahkan hubungan dengan Australia tapi sangat menyulitkan untuk berhubungan dengan Jakarta apalagi belahan dunia lain. Jikalau mau memaksakan diri untuk menggunakan Bandar di Semarang, akan diperlukan waktu tempuh yang lama sehingga kurang efisien sebagai  pusat pemerintahan suatu negara.

Konflik Keputusan. Jika menggunakan Jogjakarta sebagai pusat pemerintahan Negara, akan berbenturan dengan posisi Jogjakarta sebagai pusat pemerintahan provinsi. Masalah kompleks akan melanda Jogjakarta layaknya Jakarta pada saat sekarang. Kadang keputusan pemerintah pusat berbenturan dengan keputusan pemerintahan Provinsi sehingga akan ada salah satu yang akan terkorbankan. hal ini tidak akan terjadi dengan Bukittinggi karena Bukittinggi pusat pemerintahan Sumatera Barat ada di kota Padang. Namun hal ini bukan serta merta membuat Bukittinggi menjadi kota yang kurang maju karena dari zaman dahulu Bukittinggi sudah diakui sebagai pusat perdagangan Sumatera Barat dan Sumatera Timur, jauh lebih maju daripada perdagangan di Kota Padang. Aur Kuning sebagai jantung perdagangan grosir di Bukittinggi sering dijuluki sebagai kembaran Pasar Tanah Abang di Jakarta. Sehingga Bukittingi akan mempu menopang keputusan pemerintahan dan menyediakan fasilitas yang memadai.

Anti Banjir. Bukittinggi berada di dataran tinggi yang akan kecil kemungkinan untuk terjadinya banjir.Ini akan memperlancar kerja pemerintahan karena tidak akan pernah ada agenda dalam mengatasi banjir. Hal ini juga akan memberi citra yang sangat baik tentang Indonesia kepada para tamu-tamu Negara dari berbagai belahan dunia. Layaknya sebuah pusat pemerintahan, Bukittinggi pasti akan dikunjungi oleh delegasi-delegasi dari berbagai Negara sahabat yang mungkin akan merubah mindset mereka tentang Indonesia karena mereka tidak pernah lagi melihat banjir. Ini sangat menguntungkan Indonesia.

Udara sejuk dan pemandangan yang asri. Bukittinggi terkenal dengan sebutan kota wisata yang memiliki segudang objek wisata yang tak terbantahkan keindahannya laksana zamrud di khatulistiwa…(bersambung)

8 thoughts on “Pemindahan Ibukota Indonesia : Bukittinggi adalah pilihan paling ideal

    • betul..
      Bukittinggi punya semua persyaratan ideal sebagai sebuah ibukota negara🙂

      pasti asyiik kalo pemerintahan di sana..^^

  1. Benar sekali,
    bukittinggi sangat mendukung sekali untuk d jadikan ibukota.
    Selain posisi d tengah pulau sumatra bukittinggi siap untuk menjadi ibukota. Selain itu bukittinggi juga memiliki pinggiran yg datar seperti kamang, baso, koto baru dan smpi palupuh yg bsa d bangun akses pendukung pemerintahan…
    Selain itu bukittinggi telah memiliki landmark perjuangan yakni jam gadang.

  2. Sebagai putra minang terasa janggal sekali klu kita mengusulkan Bukitinggi dijadikan ibukota RI sepertinya usulan ini cuma mencari sensasi saja di alam demokrasi ini tanpa membawa logika akal yg sehat dan sementara lokasinya juga menurut hemat saya sama sekali tidak mendukung kecuali pada zaman penjajahan dahulu itu karena keterpaksaan sesaat saja tetapi lain ceritanya utk sekarang ini sama sekali tidak mendukung karena pada umumnya daerahnya berbukit-bukit jangankan utk dijadikan Ibukota RI dipilih untuk ibukota Propinsi saja msh kurang mendukung, lihat saja sekarang ini pemdanya saja sudah kewalahan mengurusi pengembangan lahan utk mengikuti pertumbuhan penduduknya dan pada hari2 tertentu Bukittinggi selalu mengalami kemacetan juga dibidang lalu lintasnya.

  3. Bagus juga idenya menjadikan Bukittinggi sebagai alternatif pengganti ibukota Indonesia.
    Meskipun demikian, saya lebih setuju Bukittinggi menjadi seperti yang sekarang. Sebab, bila sudah menjadi ibukota negara, karakteristik dan kekhasannya akan pudar sedikit demi sedikit, sebagai konsekwensi dari ibukota negara. Dan dapat dipastikan bahwa gaya hidup masyarakatnya pun akan berubah menjadi gaya kehidupan metropolis.

    Ah…. terlalu mahal harga yang harus dibayar demi pemindahan ibukota ke Bukittinggi. Maka, biarlah ia menjadi Bukittinggi seperti yang kita kenal selama ini. Itu jauh lebih membahagiakan.

    • iya juga si bung vizon..
      saya sebenarnya lebih suka kalau Bukittinggi tetap menjadi seperti sekarang aja.

      Kalau udah jadi ibukota Indo, saya ga bisa bermimpi lagi kalau liburan ke sana pasti bisa ngirup udara bersih dan segar..

      makanan Bkt yang enak-enakpun spt nasi kapau, nasi ramas, sate, lotek, dll pasti akan tergusur ama makanan-makanan eropa dan jepang..

  4. Nggak juga tuh!!!
    Menurut aku lebih bgus klo d Indonesia tmr…
    Soalnya pembangunan di brt lebih maju dr pada d tmr…
    Atau ditambah 1 lg di indonesia timur…

    • iya juga..Indonesia timur bisa juga khususnya Makassar. Cuma jumlah penduduk Indonesia yang terpusat di Indonesia bagian barat akan sangat menyulitkan jika pusat pemerintahan ada di Indonesia Timur. Kecuali jika Indonesia timur dipusatkan sebagai pusat industri maritim spt perkapalan, hasil-hasil perikanan dsb akan sangat baik karena Indonesia timur memiliki area laut yang luas dan juga dalam sehingga potensi untuk usaha kelautan sangat menjanjikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s