Apakah Keislaman Selalu Diukur dari Bungkusnya…


Tema ini sengaja saya angkat sebagai tanggapan saya pribadi terhadap keluhan beberapa orang teman mengenai sikap “tidak biasa” yang ditunjukkan oleh teman-teman “rohis” yang konservativ terhadap beberapa orang yang cenderung lebih moderat dalam berbagai hal, baik cara berpakaian, bergaul, gaya hidup dan lain sebagainya.

Sebagian orang salah kaprah dalam melihat orang lain hanya dari bungkus luarnya saja dan seringkali buru-buru men-judge mereka seperti persepsi sesaat mereka tersebut. Padahal mungkin apa yang mereka fikirkan tersebut belum tentu benar. Mohon maaf sebelumnya saya ucapkan jika anda adalah salah seorang dari anggota rohis,kammi,bkim dan lembaga lain yang relevan, saya tidak menuduh anda melakukan hal tersebut tapi kenyataannya banyak dari rekan anda yang ternyata buru-buru mencitrakan buruk teman-teman yang saya sebutkan moderat tadi, meskipun hanya dalam fikiran mereka sendiri.

Apa yang dilakukan teman-teman rohis cs tadi barangkali bukan tanpa alasan tapi terkadang alasan pembenaran mengapa mereka melakukan hal demikian, menurut saya terlalu terburu-buru. Sebut saja, misalnya dalam hal pakaian. Teman-teman rohis memang lebih sering,atau bahkan selalu menggunakan celana kain (bukan jeans). Bandingkan dengan teman-teman moderat yang lebih suka berpakaian “bebas”, mengenakan jeans dan T-shirt, beberapa juga mengenakan gelang dan rambut dibuat dengan berbagai macam rupa. Mulai dari yang wajar hingga yang terkesan seperti orang gila..;) Bahkan juga ada yang melakukan highlighting rambut. Hal bersifat fisik inilah yang seringkali menjadi patokan bagi teman-teman rohis untuk langsung melakukan justifikasi bahwa anak-anak moderat ini kurang taat beragama, agamanya gak bener,orang yang harus dijauhi karena bisa ketularan masuk neraka atau bahkan mungkin yang meremehkan kemampuan mereka dalam menguasai ilmu agama..Sangat ironi sekali.

Jika permasalahannya adalah celana jeans, dan rasullulah tidak pernah mengenakan celana jeans ini, itu memang karena pada zaman rasullullah belum ada celana jeans. Atau mungkin ada fikiran bahwa celana jeans haram karena asal muasalnya dari barat yang notabenenya bukan negara muslim, saya rasa hal itu tidak bisa dijadikan alasan. Saya pun dulu pernah menanyakan kepada mentor keagamaan saya perihal celana jeans tersebut, dan dia mengatakan bahwa jeans tidak haram. Cuma disarankan tidak untuk dipakai karena dikhawatirkan produk tersebut datang dari barat dan keuntungannya digunakan untuk menghancurkan Islam. Permasalahannya sekarang, apakah semua jeans itu berasal dari barat atau produksinya dikuasai oleh barat? Jawabannya pasti tidak. Jeans-jeans produksi lokal malah paling banyak bertebaran di Indonesia ketimbang produksi barat. Dengan begitu, dalil haram yang sempat dihembuskan tersebut tidak bisa dipertahankan. Apalagi dunia yang semakin modern dan jeans adalah model celana paling dinamis, rasanya sangat sulit untuk zaman sekarang bisa berpaling dari celana jeans. Salah satu hadist rasullulah berbunyi:

kamu lebih tahu duniamu  daripada aku…

Hal tersebut mengindikasikan bahwa, untuk urusan dunia tidak ada hal statis yang mengikat. Semuanya tergantung kita dalam melakukan kustomisasi, dengan catatan tidak keluar dari koridor agama islam.

Begitu pula jika alasannya adalah karena mengenakan gelang atau melakukan highlighting rambut(pewarnaan). Kedua hal tersebut juga tidak bisa langsung dijadikan alasan untuk menjudge keislaman seseorang atau berpikir bahwa mereka adalah berandalan. Dalam islam tidak pernah ada larangan dalam menggunakan gelang. Yang dilarang adalah mengenakan emas atau perhiasan wanita semacam kalung. Jadi sejauh gelang tersebut bukan terbuat dari emas, saya rasa sah-sah saja mengenakan gelang. Begitu pula dalam hal pewarnaan rambut. Ada yang mengatakan bahwa pewarnaan rambut sama seperti mengecat kuku sehingga jika shalat, maka shalatnya tidak sah karena air tidak masuk ke pori-pori. Ternyata hal itu keliru. Pewarnaan rambut prinsipnya sama dengan pewarnaan kuku menggunakan “inai” (semacam pewarna yang berasal dari tumbuh-tumbuhan) dimana warna meresap ke dalam pori-pori rambut sehingga tidak menutup pori-pori dan menghalangi air masuk ke rambut saat berwudhu. Jadi pewarnaan rambut dibolehkan dalam islam dan hal inipun telah pernah saya tanyakan kepada mentor agama saya. Akan tetapi ada satu catatan penting, pewarnaan diperbolehkan jika warnanya berbeda dengan warna rambut asli(hitam) dan tidak menimbulkan kerusakan bagi diri sendiri.

Satu lagi hal rawan yang sering diperbincangkan, yaitu mengenai pemahaman agaman, bahwa teman-teman yang moderat tadi tidak paham atau tidak menguasai agama islam, sehingga ibadahpun mungkin mereka tidak benar. Jika ini yang ada dalam fikiran anda, sekali lagi saya katakan bahwa anda terlalu terburu-buru dalam menarik kesimpulan. Banyak di antara teman-teman yang bergaya funky,gaul,rambut mowhawk/spike dan berwarna, ternyata mereka sering melakukan puasa sunat, selalu shalat sunar rawatib,tahajud dan dhuha. Jika saya boleh bertanya kepada teman-teman rohis cs., barangkali belum tentu mereka melakukan hal serupa. Apalagi jika mereka(teman-teman rohis) malah melakukan hal yang dilarang dalam islam. Sungguh “gagak sudah berubah putih..”. Saya mengatakan hal ini bukan tanpa sebab, karena saya pernah mendengar kasus “jilbaberz berkaki empat” yang terjadi di IPB. Mudah-mudahan tidak ada lagi kejadian-kejadian memalukan seperti ini terulang lagi di kampus tercinta ini..

Jadi sebenarnya apa inti pembicaraan saya ini?

Intinya adalah kita atau siapapun tidak bisa dan tidak berhak men-judge segala sesuatu hanya dari kulit luarnya saja, termasuk orang yang kelihatan di luar meragukan dalam hal keagamaan seperti saya sebutkan di atas. Karena jika sendainya orang yang kita cap buruk tersebut ternyata jauh lebih baik dan lebih dekat kepada Allah daripada kita, sungguh malunya kita. Malunya pun sudah bukan level ece-ece lagi, tapi level advance.

Saya sendiri bukan orang yang anti rohis karena saya bergaul cukup baik dengan banyak teman-teman rohis, bahkan mentor agama sayapun adalah seorang rohis yang sangat agamis. Cuma terkadang saya merasa agak kecewa dengan sikap-sikap seperti yang saya utarakan di atas. Setiap orang punya preferensi masing-masing dalam hal keduniawian, ada yang konservatif(rohis cs) ada juga yang memilih moderat(termasuk saya). Karena hal tersebut kembali lagi kepada kenyamanan. Ada orang yang nyaman dengan celana bahan menggantung sampai mata kaki, memakai baju berkerah dan menenteng alquran kesana kemari(meskipun belum tentu dibaca atau dipahami isinya), tapi membiarkan dirinya tidak mandi beberapa hari, bersatwa sangka kepada orang lain dan memenuhi pikirannya dengan kata-kata “saya yang paling benar dan paling baik”. Namun ada juga orang yang rapi,bersih,style oriented,berpikiran terbuka,mudah menerima perbedaan, dan beribadah tidak perlu dilihat oleh orang lain. Mereka shalat wajib dan shalat sunnat,bersedekah,berpuasa dan beribadah lainnya tidak ingin dilihat orang. Semuanya dilakukan dengan ikhlas dan hanya diketahui oleh dia dan Allah. Nah..manakah  menurut anda pantas disebut manusia yang lebih baik. Jawaban sepenuhnya ada di tangan anda.

Sekali lagi, Allah tidak pernah melihat manusia dari tampilan fisiknya melainkan dari Akhlaq dan ketakwaannya kepada Allah.

Semoga kita, saya dan anda berada pada posisi orang yang benar dan bukan orang yang merugi dan sia-sia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s