Jangan Pernah Katakan Benci


Judul di atas saya angkat karena berkaca pada banyak sekali pengalaman pribadi dan tidak sedikit pengalaman teman-teman saya yang telah membuktikan bahwa tidak akan pernah ada kebencian yang abadi di atas dunia ini.

Benci dalam konteks kita sekarang memiliki makna yang luas, bisa berarti tidak mau, tidak suka, tidak berminat dan lain sebagainya. Dan sejarah pun telah membuktikan bahwa kebencian yang tadinya bisa menyebabkan dua tokoh politik saling bermusuhan, ternyata di akhir cerita mereka malah saling berpegangan tangan dalam mencapai misi politiknya. Andapun pasti sudah tahu siapa yang saya maksud.

Kembali ke bahasan semula.
Jika saya boleh flash back ke masa belia saya ketika masih duduk di kelas 2 SMP, sekitar 8 tahun yang lalu. Semua orang juga tahu bahwa masa tersebut adalah masa dimana seorang anak mulai merasakan suka kepada lawan jenisnya, meskipun mungkin rasa suka tersebut hanya bertahan sejenak. Pada masa pancaroba tersebut, saya punya suatu kriteria khusus bagi cewek(baca:perempuan) yang akan menjadi ‘pacar’ saya. Sebenarnya saya sungkan untuk mengucapkannya, tapi tidak masalah demi berbagi pengalaman. Semoga pengalaman saya bisa menjadi pengajaran berharga bagi pembaca yang budiman. Saya memasang target bahwa saya tidak akan pernah berpacaran dengan gadis berambut gimbal(baca:keriting).Di samping karena di keluarga saya hampir semuanya berambut lurus, saya berpikir gadis dengan rambut kriwil tersebut identik dengan gadis yang pemarah,sangar dan ganas plus jutek. Meskipun tidak membenci perempuan berambut kriting, tapi dalam fikiran saya telah muncul stigma negatif jika bertemu dengan gadis keriting, “Aku tidak akan pacaran dengan gadis keriting ini..bla bla bla..”. Sampai-sampai hal ini banyak terdengar oleh teman-teman satu gank saya, gank ingusan tempat berkumpulnya anak-anak smp yang bau kencur dan polos. Hehehe..

Namun apa yang terjadi? Hanya beberapa bulan setelah pendeklarasian tersebut, saya mulai suka dengan seorang adik kelas 1 (sekarang kelas VII namanya). Anak ini termasuk anak kategori 1 alias idola di sekolah karena wajahnya mirip Aishwarya Rai, hidung mancung dan bodinya oke. Saking tergila-gilanya saya dengan gadis ini dulu, Dulu ya..sekarang sudah tidak lagi, saya gemar sekali mengirimkan surat berisi puisi-puisi sok romantis dan mengajak jalan bersama setiap pulang sekolah hingga suatu waktu kami pun memutuskan untuk membuat satu komitmen bersama. Bayangkan komitmen antara anak kelas 2 dan kelas 1 SMP!^^

Tapi tanpa disadari ada satu prinsip yang telah saya langgar karena pada kenyataannya gadis yang kini selalu hadir dalam pikiran saya di sela-sela hafalan sejarah Peradaban mesopotamia atau sederet rumus-rumus fisika alat-alat optik, bahwa ternyata gadis ini memiliki rambut keriting. setelah lama merenung, sekarang saya baru tersadar bahwa ternyata rambut keritinglah yang membuat dia begitu mempesona. Satu kebencian saya terhadap rambut keriting telah gugur tanpa paksaan. Saya pun sempat bingung ingin menaroh muka dimana ketika teman-teman saya mempertanyakan prinsip yang telah saya ucapkan sebelumnya.”Ya sudahlah..Namanya juga cinta..”

Masih di masa-masa kelas 2 SMP. Saat itu adalah awal kemunculan handphone di Indonesia, maksud saya handphone mulai merambah masyarakat biasa.Tidak lagi hanya kalangan pebisnis. Saat itu seingat saya hanya ada dua operator yang paling dominan yaitu “T” dengan “Smp”-nya dan “S” dengan “Mtr”-nya. Begitupun handset yang beredar hanya dua, “N” dan “E”. Entah apa alasannya dulu, saya pun lupa, pada saat itu saya benar-benar fanatik dengan  kartu “Mtr” dan handphone “E”. Dan saya berjanji tidak akan pernah menggunakan “Smp” maupun “N”.
Tapi tahukah anda apa yang terjadi setahun setelah itu? Saya malah menjadi maniak handphone “N” hingga detik ini dan menjadi fans loyal dari kartu “smp” hingga hari ini setelah menggunakannya selama 7 tahun.Satu lagi kebencian saya telah runtuh tanpa ada paksaan hanya dalam kurun setahun.

Fenomena sama juga dialami oleh seorang rekan saya bernama “Yeti”. Sebenarnya dia lebih cocok saya sebut sebagai Bu De karena umurnya yang lebih tua dari mama saya. Tapi karena dia adalah rekan yang baik bagi saya, tidak berdosa rasanya jika saya menyebutnya sebagai rekan.

Yeti ini pada saat saya kelas 2 SMP, sudah berstatus single ke dua alias sudah jatuh talak dengan husband-nya yang pertama. Saya pun pernah mengorek-orek kisah cintanya sebelum dan setelah “commit” dengan former husbandnya ini. Dari keteragan yang dia berikan, saya mendapat informasi bahwa ketika muda dia benar-benar mendambakan pria yang mulus tanpa kumis. hehehe..Lama dia menjaga prinsip ini hingga dia bertemu dengan seorang pria yang akhirnya menjadi tambatan hatinya terakhir hingga menikah. Prinsipnya itu juga terdengar oleh seluruh anggota kelauarganya dan merekapun tak pernah membatasi harus bagaimana calon yang akan menjadi pendamping hidupnya. Asalkan Yeti bahagia, mereka pasti setuju. Tapi melihat Yeti memperkenalkan seorang pria yang ia cintai dan ternyata adalah seorang pria berkumis, anggota keluarganya pun menahan tawa sembari bertanya “Katanya tidak suka dengan pria berkumis? Kok sekarang iya?”, tentunya tidak di depan pria tersebut. Dengan muka sedikit memerah Yeti menjawab, “Kalau sudah cinta, mau gimana lagi?” Satu lagi kebencian yang rontok tanpa harus dipaksa.

Kasus yang hampir sama juga terjadi pada salah seorang guru saya waktu SMA, sebut saja namanya Ibu “W”. Seperti biasa, beliau yang juga dekat dengan para siswa, apakah keceplosan atau beliau memang sengaja untuk berbagi, beliau mengatakan bahwa “Jangan suka mengatakan benci karena suatu saat benci bisa berubah menjadi benar-benar cinta”. Menurut beliau, dulu ketika sebelum menikah, beliau pernah punya janji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menikah dengan orang yang satu daerah dengan beliau. Mengenai alasan apa beliau berjanji seperti itu tidak perlu saya utarakan di sini. Di dalam pikirannya kelak dia wajib menikah dengan orang dari luar daerah. Cukup lama beliau menjaga prinsip tersebut. Tapi takdir berkata lain. Ketika bertugas di luar daerah, beliau dipertemukan dengan seorang pria yang benar-benar membuat dia jatuh hati dan pada saat ini telah menjadi suaminya. Tapi tahukah anda ternyata pria tersebut adalah orang yang berasal dari daerah yang sama dengan ibu W namun kebetulan bertugas di luar daerah. Bahkan di ujung cerita diketahui bahwa rumah orang tua dari pria ini tidak jauh dari rumah orang tua Ibu W. Sungguh dramatis tapi begitulah yang terjadi.

Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah seperti ini yang ingin saya ceritakan, namun dengan 4 kasus di atas saya rasa sudah cukup mewakili apa yang ingin saya sampaikan kepada anda semua. Bahwa sesungguhnya apa yang kita benci atau tidak sukai tidak akan selamanya seperti itu dan pada suatu saat pasti hal tersebut akan berubah menjadi apa yang anda sukai dan cintai. Ini di luar konteks maksiat dan perbuatan tercela ya, karena maksiat dan perbuatan tercela mutlak hukumnya untuk dibenci. Jadi mulailah dari sekarang menyikapi segala sesuatu tersebut dengan dewasa, kepala dingin sembari meresapi makna yang terkandung di dalam suatu kejadian atau benda. Dengan begitu kita tidak akan denga mudah men-judge sesuatu menggunakan pandangan sesaat.

2 thoughts on “Jangan Pernah Katakan Benci

    • Salam Pikir Tiga..(sebenarnya saya bingung maksudnya apa Bung Maren Kitatau hehehe). Maksudnya Tridharma Perguruan Tinggi?^^

      Oya..saya bingung bagaimana pelafalan nama anda tersebut khususnya kata Kitatau.
      Apakah bunyinya seperti au pada kata KAU
      atau
      Seperti bunyi au pada kata MAU

      ……welcome to my blog…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s