KETIKA KITA TERINTIMIDASI


Kata-kata di atas saya rasa tidak terlalu berlebihan jika anda pernah merasakan suatu keadaan dimana kita seakan-akan selalu berada di bawah bayang-bayang atau pengaruh seseorang (intimider). Keadaan dimana kita merasa segan atau terkungkung untuk melakukan suatu aktifitas tertentu karena seseorang tertentu. Keadaan ini biasanya ditandai dengan perasaan takut ditegur, takut disindir atau sekedar takut akan rona wajah orang tersebut ketika dia mengetahui bahwa kita melakukan suatu aktifitas tertentu. Tidak semua aktifitas yang masuk dalam situasi ini, namun hanya aktifitas-aktifitas tertentu saja tergantung dari model interaksi kita dengan intimider.

Sebagai contoh saya mempunyai seorang teman, katakanlah bernama Ari. Ari terkenal sebagai anak yang pintar, sopan dan mempunyai pergaulan yang luas. Temannya tidak terbatas dari satu angkatan saja, namun juga angkatan-angkatan di atas dan di bawahnya. Suatu waktu, Ari bertemu dengan seseorang yang kita sebut saja namanya Jiko. Jiko adalah kakak angkatan dari Ari. Jiko adalah pribadi yang baik, ramah, tegas, berwibawa dan agamis. Pertemuan pertama tersebut bermula dari suatu acara kumpul keagamaan dan menjadi babak awal pertemanan antara kedua pribadi tersebut. Jiko yang merupakan anak tunggal merasa sangat senang sekali bisa bertemu dan bersahabat dengan Ari yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Begitupun dengan Ari, dia juga merasa senang kenal dan berteman dengan Jiko. Banyak hal baik masalah keagamaan maupun masalah lain yang tidak bisa ia pecahkan sendiri ia tanyakan kepada Jiko. Jiko pun membantu Ari dengan sangat senang hati untuk berbagai topik sehingga hubungan persahabatan mereka yang tadinya ada dalam frame “keagamaan” meluas hingga ke kehidupan pribadi. Mereka yang tadinya hanya bertemu di forum keagamaan, jadi sering bertemu di even-even lain seperti acara organisasi, seminar-seminar dan jamuan makan. Bantuan Jiko terhadap Ari pun tidak lagi sebatas saran dan solusi namun telah jauh ke bantuan materi. Jiko sering memberikan traktiran makan kepada Ari(juga kepada teman-teman lainnya, namun sudut pandang di sini hanyalah Ari dan Jiko), dibayarkan ongkos dan lain sebagainya.

Ari tentu sangat senang dan berterima kasih sekali kepada Jiko. Di sela-sela kebaikan tersebut, Jiko yang juga terkenal sebagai mentor motivasi dan organisator handal di kampus mereka juga memberikan nasehat-nasehat khususnya norma keagamaan kepada Ari, misalnya larangan berpacaran dalam agama karena dapat menimbulkan fitnah dan zina, menjalani kehidupan yang agamis dan sebagainya. Ari yang meskipun seorang penganut agama yang taat, namun juga seorang pribadi moderat, sebenarnya belum bisa menerima pandangan-pandangan Jiko yang cukup ekstrim tersebut namun ia tetap menerima masukan-masukan dari Jiko. Ketidakmampuan Ari menolak pandangan Jiko yang sebenarnya bertolak belakang dengan pandangan hidupnya(meskipun pandangan Jiko tersebut benar) telah menunjukkan bahwa Ari telah terintimidasi oleh Jiko.

Selain cerdas, Ari juga tidak pelit dalam berbagi ilmu dengan orang lain. Sehingga tidak jarang Ari diajak oleh teman-temannya untuk belajar bersama untuk memahami materi-materi yang bagi teman-temannya terasa cukup sulit. Dan seringkali dia mengajarkan materi pelajaran tersebut dikelilingi oleh banyak perempuan, namun beberapa kali juga oleh satu orang perempuan. Suatu kali ketika Ari dan hanya satu orang teman perempuannya belajar bersama di suatu tempat di kampus mereka, tiba-tiba Jiko lewat di depan mereka. Seketika itu juga jantung Ari serasa mau copot karena Jiko pernah menasehatinya bahwa di dalam agama mereka dilarang untuk berpacaran atau berduaan dengan lwan jenis karena dapat menimbulkan fitnah dan zina. Ari merasa takut kalau-kalau Jiko menegurnya. Padahal Jiko sendiri tidak merasa bahwa dia harus menegur Ari karena Jiko berpikir bahwa tugasnya telah selesai jika dia sudah memberi tahu seseorang. Mengenai apakah orang tersebut akan menjalankan nasehatnya, Jiko tidak mau ambil pusing. Poin ke dua, Ari tanpa sengaja telah terintimidasi oleh Jiko. Beberapa saat setelah itu, Ari pun sempat bercerita kepada saya mengenai perasaan terkungkungnya dia dalam pusaran dogma-dogma Jiko. Saya pun kemudian menanyakan bagaiamana awal pertemanan mereka dan perjalannya sampai sekarang hingga aktifitas-aktifitas yang mereka lalui. Dan ternyata dapat saya simpulkan penyebab perasaan terintimidasi pada diri Ari disebabkan oleh beberapa hal yang sangat biasa dan mungkin seringkali luput dari pandangan kita.

Ternyata selama perjalanannya, Ari seringkali menerima kabaikan Jiko yang walaupun sepele namun cukup sering (traktir makan, dibayarkan ongkos,diundang ke acara jamuan makan) sehingga di dalam alam bawah sadar Ari telah tertanam bahwa Jiko adalah sang penolong di setiap dia membutuhkan pertolongan. Tidak hanya itu, di saat memberikan pertolongan tersebut Jiko juga memberikan kebaikan lagi (nasehat-nasehat) sehingga kebaikan yang diberikan menjadi berlapis. Hal inilah yang semakin tertanam kuat dalam benak Ari untuk menghormati Jiko, wajib hukumnya. Padahal barangkali Jiko tidak pernah ada niat untuk memperikan pengaruh sedalam itu kepada Ari.

Jadi apa yang bisa kita petik dari petikan di atas?

Setiap kali anda menerima kebaikan seseorang, sempatkanlah untuk mengucapkan Terima Kasih dengan cukup keras (bukan berarti membentak ya..). Hal ini akan membuat perasaan berhutang dalam diri anda menjadi sedikit berkurung. Banyak orang yang enggan untuk mengucapkan terima kasih dan berpikir: “Ah..nanti saja ngucapin terima kasihnya. Sekalian saya balas dengan perbuatan lain yang lebih besar nilai kebaikannya”. Ketahuilah hal ini salah. Bayangkan jika di saat yang anda targetkan untuk membalas kebaikan tersebut, anda tidak sempat atau bahkan lupa melakukannya. Setiap kali anda bertemu dengan orang tersebut, anda akan selalu merasa hutang budi kepadanya. Kalaupun anda sempat memberikan kebaikan lain kepada orang tersebut, tapi rentang waktunya sudah cukup lama setelah anda menerima kebaikannya, anda akan tetap merasa berhutang budi. Percayalah..!

Cara selanjutnya adalah jika bisa, setelah anda mengucapkan terima kasih tersebut segeralah berikan kebaikan yang setimpal. Dijamin anda tidak akan merasa berhutang budi lagi terhadap orang tersebut.

Perlu digaris bawahi di sini, saya mengemukakan pendapat di atas tidaklah berniat untuk mengajarkan anda melupakan kebaikan orang, melainkan “sharing” bagaimana manajemen perasaan dan fikiran ketika menerima kebaikan orang lain. Meskipun kita disuruh untuk selalu mengingat kebaikan orang lain, namun jika melakukannya secara berlebihan juga akan memberi efek buruk bagi diri kita sendiri.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s