Calon Presiden Ideal RI 2009-2013


Berikut saya utarakan pendapat pribadi saya mengenai tipe calon Presiden ideal untuk memimpin Indonesia 5 tahun ke depan yang saya peroleh dari beberapa studi pustaka dan gali pendapat dengan beberapa narasumber. Mudah-mudahan bisa menjadi acuan bagi anda untuk memilih siapa presiden yang akan memimpin Indonesia 5 tahun ke depan. Jika ada sebagian atau bahkan seluruh kriteria berikut yang condong kepada salah satu calon Presiden, itu bukanlah suatu trik untuk menjagokan calon tersebut namun setidaknya untuk diri saya pribadi, itulah calon yang akan saya pilih. Mengenai anda, tidak ada sedikitpun paksaan untuk memilih yang sama, namun saya hanya ingin berbagi dan mengajak anda untuk menyatukan persepsi kita tentang calon presiden ideal, sekali lagi tanpa paksaan.

#Apakah dia berkomitmen untuk kesejahteraan rakyat?

Hal ini bagi saya adalah hal yang paling fundamental bagi seorang presiden karena dia bukan hanya memimpin satu dua orang melainkan ratusan juta orang dalam suatu Negara. Seorang pemimpin Negara harus memperjuangkan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kesejahteraan pribadi ataupun kerabatnya saja. Apa gunanya menjadi presiden tapi ternyata dia hanya akan menghabiskan uang Negara untuk pergi jalan-jalan keliling dunia. Apa gunanya menjadi presiden jika dia hanya duduk diam seperti kursi kosong, tanpa ada gebrakan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan rakyat itu memiliki makna yang luas, tidak hanya menyangkut keuangan tapi juga pendidikan yang layak (kalau bisa gratis), pelayanan kesehatan dan perlindungan hokum, yang kesemuanya tidak pandang bulu dan berlaku universal bagi seluruh warga Negara Indonesia.

Komitmen tersebut tidak hanya diungkapkan lewat kata-kata ataupun janji-janji semata. Kalau hanya mengucapkan di mulut, anak berusia 5 tahun juga bisa melakukannya.

Nah bagaimana mengetahui bahwa sang calon tidak hanya membual?

Cara yang paling mudah adalah melihat track recordnya ke belakang. LIhat apakah si calon tersebut, di masa kepemimpinannya (baik sebagai presiden, wakil presiden, mentri, gubernur, ataupun pemimpin lainnya) pernah melakukan gebrakan untuk kesejahteraan masyarakat? Kalau iya, apakah dia melakukannya dengan ikhlas atau ada niat terselubung? Untuk mengetahui keikhlasannya, lihat saja apakah gebrakan tersebut dilakukan secara terus menerus atau hanya di ujung masa kepemimpinannya saja? Karena ada pejabat yang melakukan banyak 

sekali hal-hal positif “hanya” pada akhir-akhir jabatannya dengan tujuan agar hal itu bisa terlihat dan teringat oleh masyarakat.

Kalau tidak, ya lebih baik jangan memilih calon tersebut. Karena bagi saya dengan melihat beberapa pengalaman di berbagai bentuk pemilihan, baik di SMA, kampus ataupun di masyarakat, calon yang seperti itu hanya memiliki janji-janji di mulut dan melupakan janji-janjinya ketika dia sudah terpilih.

# Apakah dia punya pribadi yang baik ?

Bagian ini juga menjadi poin yang sangat mendasar bagi calon pemimpin besar seperti presiden karena dia akan menjadi pemimpin jutaan manusia dan akan menjadi panutan banyak orang. Cara yang paling mudah untuk melihat apakah dia punya pribadi baik adalah :

Tindak-tanduknya selama kampanye…Selama kampanye, seorang yang sedang memperebutkan suatu kursi jabatan akan berusaha untuk menjatuhkan lawan politiknya dengan berbagai cara. Dan bukanlah orang yang baik kalau dia menjatuhkan lawan politiknya dengan cara-cara yang tidak fair, dan menurut saya pribadi cara-cara yang memalukan, misalnya menghasut, menghina, memfitnah, memburuk-burukkan, mengungkit-ungkit kesalahan lawan politiknya serta iri terhadap kegemilangan yang dicapai oleh lawan politiknya.

Nah bagaimana masyarakatnya akan menjadi pribadi-pribadi yang baik, kalau presidennya punya pribadi yang buruk. Karena pribadi bangsa adalah cermin dari martabat dan isi kepala dari bangsa tersebut.

# Apakah dia cerdas?

Saya tidak memberi patokan bahwa seorang presiden harus bertitel panjang, lebih panjang dari namanya sendiri, karena Nabi Muhammad SAW yang merupakan pemimpin besar dunia islam notabenenya adalah seorang buta huruf meskipun seluruh dunia mengakui bahwa beliau adalah pemimpin yang sangat cerdas. Namun apakah kita tidak malu melihat presiden kita tidak bisa berbahasa inggris atau hanya membaca konsep yang dibuat oleh sekretarisnya. Hari gini..masih belum bisa bahasa Inggris? Mohon maaf..



Namun sebenarnya dengan menutup mata dan telingapun, orang awam juga tahu bahwa semakin tinggi gelar pendidikan calon presiden, makin cerdaslah dia, setidaknya kemampuan dia untuk memecahkan suatu masalah dan memberikan solusi jauh lebih baik daripada calon yang gelar pendidikannya lebih rendah. Apalagi dengan kondisi Negara kita yang berbasiskan ekonomi pertanian, seorang calon yang memiliki pengetahuan lebih atau bahkan pernah menempuh pendidikan yang berkaitan dengan ekonomi pertanian akan menjadi jauh lebih baik daripada calon yang tidak memiliki latar belakang ilmu tersebut sama sekali.

# Apakah calon berasal dari militer?

Saya tidak mau munafik dan andapun mungkin bisa berpikir sendiri, selama 63 tahun Indonesia merdeka dengan beberapa kali pergantian presiden, masa pemerintahan Pak Soeharto lah masa dimana Negara kita paling aman dan stabil, terlepas dari kasus yang melilit beliau. Tidak bisa dipungkiri latar belakang militer yang identik dengan kedisiplinan, ketahanan, kekuatan dan patriotism juga mempengaruhi seorang calon yang berasal dari latar belakang tersebut. Saya rasa anda pun setuju bahwa sangat jarang mendengar adanya kerusuhan, imigran illegal, teroris, dan ketidakstabilan Negara pada masa Pak Soeharto. Hal tersebut kenapa? Karena beliau yang berasal dari militer memang punya ‘skill’ yang jauh lebih hebat dalam menciptakan kestabilan dalam dan luar negeri Indonesia, ketimbang calon dari kalangan non-militer.

Hal lain yang perlu kita ingat, beberapa wilayah Indonesia sudah jatuh ke Negara lain (Sepadan dan Ligitan) dan bahkan sebelumnya ada yang telah memisahkan diri (Timor Timur) dari Indonesia tercinta ini. Apakah itu terjadi pada masa pemerintahan dari non-militer atau militer? Anda sendiri pasti bisa menjawabnya di luar kepala.

Dan bagi saya pribadi, jika ingin Negara kita ini kuat dan stabil, pilihlah calon presiden dari kalangan militer.

# Apakah dia orang yang beragama Islam?

Saya berkata hal ini bukan karena saya adalah pemeluk Islam dan harus memilih calon yang seiman, namun tidak perlu dibantah lagi bahwa Islam adalah entitas terbesar yang ada di Negara kita tercinta ini. Islam yang sedemikian besar ini perlu mendapat perlindungan yang besar dari pemerintah agar tidak mudah ditunggangi oleh pihak-pihak yang tidak 

bertanggungjawab. Nah bagaimana akan melindungi umat islam yang jumlahnya ratusan juta ini jika pemimpinnya bukan beragama islam. Beraga islam di sini bukan hanya bertitel agama islam saja, namun juga tercermin dari pribadi dan tingkah laku sang calon. Karena jika seseorang tersebut memang menjalankan syariat islam dengan benar, maka akan terlihat jelas dari prilakunya bahkan bisa dilihat dari muka dan raut wajahnya. Bukan hanya bergelar agama islam, tapi pernah kedapatan beribadah di tempat ibadah agama lain. Kalau begitu, lebih baik coming out saja ke public bahwa dia bukan non-islam. Bereskan? Daripada hanya menggunakan islam sebagai tameng untuk mencari simpati.

Bagi anda yang kebetulan bukan islam, jangan langsung merasa marah atau pesimis. Islam itu baik kepada semua manusia dan alam. Tidak pernah dalam islam diajarkan untuk menyakiti manusia lain, bahkan manusia yang bukan islam sekalipun. Islampun tidak pernah melakukan kekerasan dan pemaksaan kehendak. Sebagai catatan, di Malaysia yang notabenenya adalah Negara islam dan pemerintahannya member perlindungan lebih kepada etnis melayu dan umat islam, ternyata umat non-islam di Malaysia tidak pernah merasa terancam. Bahkan mereka hidup damai dan tentram di Malaysia. Nah begitu juga dengan anda. Jika anda memilih pemimpin yang benar-benar beraga islam, sekali lagi bukan hanya tameng, saya jamin anda tidak akan pernah disakiti atau dilukai ketika nantinya beliau memimpin.

#Apakah calon presiden tersebut laki-laki?

Bagian ini sebenarnya merupan idealisme saya semata yang lebih memilih laki-laki sebagai pemimpin dibandingkan perempuan. Bukan untuk menentang arus emansipasi wanita, tapi karena dalam agama saya sendiri dikatakan bahwa laki-laki adalah imam(pemimpin) bagi wanita, dan saya percaya itu.

Hal lain yang membuat saya berkata begitu adalah kenyataan bahwa wanita masih labil dibandingkan laki-laki dalam memimpin. Di samping karena sifat wanita yang kurang tegas dan sulit untuk berdiplomasi(bekerjasama dan melobi), juga karena sifat wanita yang kurang sportif dan pendendam. Jika mereka kalah, wanita kurang bisa menerima kekalahannya dan berusaha untuk menyimpan rasa kurang senangnya tersebut dalam bentuk ‘dendam’. Itulah kenapa di dalam sinetron-sinetron, tokoh-tokoh antagonis kebanyakan dari pihak wanita. Itu bukan tanpa alasan, melainkan gambaran realita yang sebenarnya.



Bagi anda yang kebetulan wanita, saya sebelumnya memohon maaf. Pernyataan di atas saya buat bukan dari pemikiran saya pribadi semata, melainkan juga terlontar dari mulut seorang wanita yang paling saya cintai di atas dunia ini yaitu mama saya. Ketika saya berdiskusi tentang pemimpin ideal dengan beliau, ya begitulah yang beliau sampaikan kepada saya, meskipun mama saya sendiri adalah seorang pemimpin yang besar dalam karirnya dan saya mengagumi kehebatannya dalam memimpin.

# Beri kesempatan kedua..

Allah SWT saja masih memberikan ampunan bagi manusia yang mau bertobat kepada-NYA. Kenapa kita manusia tidak mau memaafkan sesama, termasuk calon presiden kita? Jika seandainya di masa pemerintahan sebelumnya sang calon pernah melakukan kekeliruan yang membuat kita kecewa atau hasil kerja nya belum mampu memberikan kepuasan kepada kita, berilah kesempatan ke dua. Saya yakin sang calonpun pasti memiliki itikad untuk memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Barangkali hasil kerjanya yang belum memberikan kepuasan tersebut bukan karena kinerjanya yang buruk, melainkan karena program yang dia rencanakan belum tuntas pelaksanaannya 100%. Nah tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan lagi bagi sang calon untuk melanjutkan pelaksanaan kerja yang belum rampung. Toh juga presiden dalam aturannya tidak boleh terpilih lebih dari dua kali masa jabatan secara berturut-turut kan? Jadi kalau pada kesempatan kedua ini sang calon masih belum bisa memberikan kinerja terbaiknya sebagai pemimpin bangsa, barulah saatnya kita melimpahkan kepercayaan kepada wajh-wajah baru yang mungkin lebih baik dari beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s